Jumat, 13 September 2019

Faktor Agama Bukan yang Utama dalam Radikalisme dan Intoleran


Dewasa ini, terorisme kembali merebak di bumi pertiwi. Hal ini, menjadikan istilah tersebut sudah tidak asing lagi, bahkan telah menjadi konsumsi public. Kenapa terorisme dapat muncul bahkan berkembang, hal tersebut dapat kita nuntut dengan kaitan berkembangnya fenomena radikalisme, yang kemudian berkembang menjadi intoleransi, hal-hal tersebut sebagai sumber berkembangnya bibit-bibit terorisme. Logika urutanya pun bisa dibalik. Diawali dengan intoleransi, kemudian fanatisme yang buta ini akan berkembang menjadi radikalisme. Pada kesempatan ini, pokok pembahasan akan lebih merinci pada radikalisme dan intoleran.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme memiliki arti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastic. Tindakan radikalisme memiliki arti yakni seseorang bahkan kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Kelompok radikal terserbut umumnya menginginkan sebuah perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastic serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.
Sejauh ini, banyak yang mengaitkan radikalisme dengan agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran agama, yakni sesuai dengan arti radikalisme itu sendiri. Lantas bagaimana radikalisme dapat dikaitkan dengan agama, hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor. Faktor pemikiran berpengaruh terhadap keterkaitan agama dengan radikalisme. Radikalisme dapat berkembang karena adanya pemikiran bahwa segala sesuatunya harus dikembalikan ke agama walaupun dengan cara yang kaku dan menggunakan kekerasan. Faktor ekonomi juga dapat menjadikan munculnya radikalisme. Karena sudah menjadi kodrat manusia untuk bertahan hidup, dan ketika terdesak karena masalah ekonomi maka manusia dapat melakukan apa saja, termasuk meneror manusia lainnya. Faktor ekonomi tersebut juga membuktikan bahwa radikalisme kurang tepat jika mutlak dikaitkan dengan agama. Factor ekonomi, semakin diperkuat dengan adanya factor politik, factor sosial, factor psikologis dan factor pendidikan yang memperkuat argument bahwa radikalisme tidak dapat dikaitkan dengan agama secara mutlak.
Pembahasan berikutnya mengenai intoleran. Semua orang sudah mengetahui, sudah bukan rahasia lagu bahwa intoleran memiliki arti berlawanan dengan toleran, yaitu tidak tenggang rasa. Tindakan intoleran umumnya memiliki beberapa ciri-ciri. Pertama, orang intoleran, akan lebih (cenderung) tidak bisa menerima atau biasa disebut bersikap kaku (rigid). Sikap tersebut akan dimunculkan ketika ia berhadapan dengan orang atau kelompok yang berbeda dengan argument dan keyakinannya. Kedua, ia berpotensi melakukan ujaran-ujaran kebencian terhadap orang atau kelompok yang berbeda keyakinan dengannya.

Pada hal ini, dapat ditekankan bahwa, toleran-intoleran adalah sebuah “tindakan”, bukan pikiran apalagi sebuah aturan. Terkandung dua kata kunci dalam toleransi, yang tentu tidak memiliki intoleran , yaitu kesengajaan dan tidak mengganggu. Sama halnya dengan radikalisme, tidak jarang intoleran dikaitkan dengan agama. Beberapa factor yang berpengaruh langsung terhadap intoleran yaitu, fanatisme agama, ketidakpercayaan terhadap agama dan etnis lain, sekularisme, perasaan terancam, dan media sosial. Factor-faktor tersebut dapat dijabarkan dengan menggunakan metode analisis statistic yaitu Structural Equation Modelling (SEM). Intoleran biasanya dapat terwujudkan dari pengeboman atau pembubaran paksa suatu acara keagamaan. Namun, jika kita melihat kembali adanya beberapa factor tersebut meyangkut atau berkedok salah satu agama. Kita harus mempertimbangkan latar belakang tersebut.

(amalia qotrunnada, 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar