Dewasa ini, terorisme kembali merebak di
bumi pertiwi. Hal ini, menjadikan istilah tersebut sudah tidak asing lagi,
bahkan telah menjadi konsumsi public. Kenapa terorisme dapat muncul bahkan berkembang,
hal tersebut dapat kita nuntut dengan kaitan berkembangnya fenomena
radikalisme, yang kemudian berkembang menjadi intoleransi, hal-hal tersebut
sebagai sumber berkembangnya bibit-bibit terorisme. Logika urutanya pun bisa
dibalik. Diawali dengan intoleransi, kemudian fanatisme yang buta ini akan
berkembang menjadi radikalisme. Pada kesempatan ini, pokok pembahasan akan
lebih merinci pada radikalisme dan intoleran.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
radikalisme memiliki arti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau
pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastic. Tindakan
radikalisme memiliki arti yakni seseorang bahkan kelompok tertentu yang
menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan.
Kelompok radikal terserbut umumnya menginginkan sebuah perubahan tersebut dalam
tempo singkat dan secara drastic serta bertentangan dengan sistem sosial yang
berlaku.
Sejauh ini, banyak yang mengaitkan
radikalisme dengan agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah
politik dan bukan ajaran agama, yakni sesuai dengan arti radikalisme itu
sendiri. Lantas bagaimana radikalisme dapat dikaitkan dengan agama, hal ini
terjadi karena adanya beberapa faktor. Faktor pemikiran berpengaruh terhadap keterkaitan
agama dengan radikalisme. Radikalisme dapat berkembang karena adanya pemikiran
bahwa segala sesuatunya harus dikembalikan ke agama walaupun dengan cara yang
kaku dan menggunakan kekerasan. Faktor ekonomi juga dapat menjadikan munculnya
radikalisme. Karena sudah menjadi kodrat manusia untuk bertahan hidup, dan
ketika terdesak karena masalah ekonomi maka manusia dapat melakukan apa saja,
termasuk meneror manusia lainnya. Faktor ekonomi tersebut juga membuktikan
bahwa radikalisme kurang tepat jika mutlak dikaitkan dengan agama. Factor
ekonomi, semakin diperkuat dengan adanya factor politik, factor sosial, factor
psikologis dan factor pendidikan yang memperkuat argument bahwa radikalisme
tidak dapat dikaitkan dengan agama secara mutlak.
Pembahasan berikutnya mengenai intoleran.
Semua orang sudah mengetahui, sudah bukan rahasia lagu bahwa intoleran memiliki
arti berlawanan dengan toleran, yaitu tidak tenggang rasa. Tindakan intoleran
umumnya memiliki beberapa ciri-ciri. Pertama, orang intoleran, akan lebih
(cenderung) tidak bisa menerima atau biasa disebut bersikap kaku (rigid). Sikap
tersebut akan dimunculkan ketika ia berhadapan dengan orang atau kelompok yang
berbeda dengan argument dan keyakinannya. Kedua, ia berpotensi melakukan
ujaran-ujaran kebencian terhadap orang atau kelompok yang berbeda keyakinan
dengannya.
Pada hal ini, dapat ditekankan bahwa,
toleran-intoleran adalah sebuah “tindakan”, bukan pikiran apalagi sebuah
aturan. Terkandung dua kata kunci dalam toleransi, yang tentu tidak memiliki intoleran
, yaitu kesengajaan dan tidak mengganggu. Sama halnya dengan radikalisme, tidak
jarang intoleran dikaitkan dengan agama. Beberapa factor yang berpengaruh
langsung terhadap intoleran yaitu, fanatisme agama, ketidakpercayaan terhadap
agama dan etnis lain, sekularisme, perasaan terancam, dan media sosial.
Factor-faktor tersebut dapat dijabarkan dengan menggunakan metode analisis
statistic yaitu Structural Equation Modelling (SEM). Intoleran biasanya
dapat terwujudkan dari pengeboman atau pembubaran paksa suatu acara keagamaan.
Namun, jika kita melihat kembali adanya beberapa factor tersebut meyangkut atau
berkedok salah satu agama. Kita harus mempertimbangkan latar belakang tersebut.
(amalia qotrunnada, 2019)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar